Ku Ingin Seperti Dirimu-Ibu



“Siapa inspirasi yang mempengaruhi hidupmu?”
     Pertanyaan yang sering kudengar dalam acara motivasi dan kubaca di artikel-artikel yang membahas tentang inspirasi dalam hidup. Aku tergerak segera menjawab dengan fasih tapi lidahku tersekat. Tiba-tiba perasaanku ada rasa yang sangat mengganjal. Bimbang ikut merasukiku. Mengingat Beliau, aku ingin berada dalam peluknya. Betapa aku mengidolakannya, sungguh tak dapat kujelaskan. Ah... mataku mulai ada genangan yang sulit ditahan.
     Detik ini. Setiap detik. Aku merindukanmu, Ibu. Semangatku luntur, hatiku terasa sesak hingga air mataku menetes, lalu membanjiri pipiku. Setiap kumerasa sepi namun tak sendiri, tubuhku pun lesu, otakku lelah berfikir. Pikiranku melayang indah, teringat ibu. Aku segera menghempaskan tubuhku kekasur yang sesungguhnya tak empuk, tak pernah di jemur. Mau dijemur dimana, jemur baju saja harus antri, yah derita anak asrama.
    Dalam tubuh yang terebah. Tubuhku bagai tak berdaya, aku diam membisu. Mataku jelalatan, memandangi setiap sudut kamar kostku yang hanya berukuran 3x4. Pandanganku terpatung pada sebuah photo, yang beberapa bulan lalu sengaja ku tempelkan di dinding kamarku. Aku tak peduli mbak yang sekamar denganku, suka atau tidak dengan ulahku. Kala mataku semakin lekat menusukkan ke photo itu, dadaku sesak.
     Aku bangkit. Laptop segera kukeluarkan dari ranselku. Kuputar lagu-lagu tentang ibu. “Ohh Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku” tepat di lirik ini, kuputar ulang-ulang. Dalam benakku berpendapat, jika aku yang menciptakan lagu Bunda yang dinyanyikan Melly Goeslow itu, liriknya akan kutambah. Tak hanya di dalam hatiku, tapi di pikiran dan setiap hembus nafasku.
     Air bening membanjir dari kedua sudut mataku, membentuk aliran air terjun di kedua pipiku. Dadaku kian sesak. Tangisku memaksa jatuh, kuusap dengan kedua tanganku. Tangisku membuncah, tiada lagi bisa di bendung. Kubiarkan membanjir sepuasnya, meluapkan rasa rindu ini.
     Ini bukanlah kali pertama aku jauh dari ibu. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama sampai menengah atas, ibu terpaksa merantau dari satu kota ke kota lain. Hal itu dilakukan ibu, semata untuk memperjuangkan kebahagiaan anaknya. Ah jika mengingat perjuangan ibu yang itu, aku tak cukup kuat untuk menahan air mata. Terbiasa jauh dengan ibu, tidak menjadikanku bisa selalu menahan rindu. Justru kini, setiap detik hembusan adalah rindu. Apalagi, jika mengingat aku yang dulu kurang menyadari jasa ibu. Betapa menyusahkanya aku. Betapa menyebalkannya aku, dan mengecewakannya aku. Setiap kata yang kukeluarkan, menjadi gumpalan sakit di hati. Perlakuan yang tak manis yang belum kusadari, juga menjadi sakit hati dan pikirnya.
     Kini, aku ada di sini. Di kota metropolitan, menempuh pendidikan S1. Ribuan calon mahasiswa menaruh harapan yang sama sepertiku, aku beruntung menjadi salah satu calon mahasiwa yang di terima kuliah di kota ini. Semua ini, bukan hanya karena perjuanganku. Jika aku kembali berlari mundur melihat perjuanganku, perjuanganku tak ada apa-apanya di banding perjuangan jatuh bangun ibu. Perjuangan yang tak kan bisa dihitung. Lantunan doa ajaib yang tak bisa dibandingkan dengan apa pun. Jasa-jasa besar yang tak dapat diukur. Semua itulah yeng mengatarku ada di sini. Atas restumu, Allah meridhoi dan mengabulkan menjadi sebuah nikmat yang tak bisa dijelaskan.
     Setiap kumenangis, mengingat ibu. Ibuku rela waktunya termakan habis oleh rasa letih. Rasa letihnya pun tak terasa, karena keikhlasan. Kebersamaan dengan keluarga lenyap oleh sebuah kata perjuangan. Tak hanya air segar yang membasahi tubuhnya. Air keringat pun turut membuatnya basah.
     Aku tahu tulangnya tak sekuat dulu. Kini rasa letih serta rasa sakit lebih sering menghampiri. Harapanmu pada malam pun untuk tak cepat berlalu, agar bisa istirahat lebih lama semakin besar. Doanya pada fajar agar tak segera datang menjadi lantunan sebelum tidur. Aku tahu, dengan umurmu yang semakin bertambah seharusnya kau hanya duduk manis dihadapan Allah, Tuhan yang sangat menyayangimu. Atau sesekali kau menikmati keindahan ciptaan Allah. Tapi atas nama cinta pada anak-anakmu, kau rela mengendapkan itu harapan pada malam dan do’a pada fajar. Oh... ibu bagaimana aku harus membahagiakanmu. Itulah PR terbesarku. Kuingin selalu berada dalam pelukmu. Belaian kasihmu. Sentuhan lembutmu. Aku rindu....
     Sudah cukup kuceritakan kerinduanku. Walau aku tak cukup kuat mengatakannya tapi aku mampu. Dengan keyakinan membara kukatakan, inspirasi di dalam hidupku untuk dahulu sampai menutup mata hanya satu. Ibu. ya.. hanya ibu seorang. Kenapa bukan Nabi Muhammad, bukan Siti Khodijah istri Rosululloh. Sahabat-sahabat Rosul atau Wali Songo. Bukan aku tak mengidolakan mereka, aku sangat mengidolakan mereka. Melihat ibuku sangat menyayangi Rosululloh, Siti Khodijah dan hamba-hamba Allah yang sangat dimuliakan. Aku yakin ibuku menjadikan beliau-beliau sebagai inspirasinya. Menginspirasikan ibuku, juga menginspirasikan mereka pula. Cintaku pada beliau-beliau sama besarnya dengan cintaku pada Ibu. Namun, ibu adalah sosok yang sangat istimewa di dunia ini yang bisa dengan nyata kulihat dan kurasakan perjuangnnya.
     Tanganku tak akan kuat jika harus menulis seberapa banyak apa yang di lakukan ibuku untuk anak-anaknya. Pikiranku tak akan mampu jika harus mengingat-ingat jasa-jasa apa saja yang dilakukan dalam hidupnya untuk putra-putrinya. Sebenarnya, Aku pun tak mau membahas ibu. Ibu tak bisa dijelaskan. Ibu tak bisa diterjemahkan. Sedikit senyum tulusnya saja sudah kekuatan. Ucapnya adalah Do’a. Ah... tak kuasa jika harus membahas ibu. Kukatakan hanya ada ibu di hidupku yang patut kujadikan inspirasi.
     Aku ingin. Aku hanya ingin. Aku sangat ingin. Aku begitu menginginkan menjadi wanita seperti dirimu. Walau tak kan mampu aku menjadi dirimu. Tapi semua apa yang kau lakukan, adalah bekal cerminan di dalam langkahku ibu. Ibu. Ibu. Ibu... sungguh tiada yang lain.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Artikel Blog Periode 1-2015

Maria Umma

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.