Tanpa Banyak Kata

Dia. Diam-diam aku menyukainya. Menyukai caranya menatapku. Tatapan matanya yang lembut padaku, membuat hatiku berdetak riang namun tetap tenang.

Dia. Sudah berapa kali aku dan dia saling bertatap, tidak terhitung jumlahnya walau hanya sepersekian detik. Saat saling menatap, tak banyak kata yang terlontar, hanya sepotong kata dan tatapan lalu kembali terdiam.

Kadang ada sepotong kata terucap. Dan terdengar ada getaran yang berbeda disana. Entah apa? Aku tak berani menerka-nerka, mungkinkah ia punya rasa yang sama. Ah, aku takut jika harus menduga.

Aku takut, sangat takut. Semua ini bagai misteri yang tak harus dipecahkan. Bagai masalah yang tak harus punya solusi. Katakanlah aku pengecut. Aku memang tak terbiasa mengungkapkan cinta jika logika tak mendukung rasa yang kupunya.

Biarkan. Mungkin begini lebih baik. Biarkanlah semua ini berjalan apa adanya. Aku tak mau berharap. Biarlah kupendam rasa ini tanpa ia tahu bagaimana perasaanku padanya.


Untuk dia yang tak pernah tahu tentang perasaanku.
Terima kasih telah hadir sepersekian detik dalam kehidupanku.

Charles Timothy

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.