Firasat

“Bagaimana kita bisa tahu sesuatu firasat atau bukan?”

“Kamu harus cek ke dalam, dan cek ke luar. Pesan yang sama biasanya datang berulang. Lewat suara hati, atau gejala alam. Dan biarpun pikiran kamu ingin menyangkal, seluruh sel tubuh kamu seperti sudah tahu.’

“Lalu… kalau saya tidak suka dengan yang dikatakan firasat saya, lantas apa?”

“Kamu hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak, menyangkal, cuma bikin kamu lelah.”

“Perlu saya memperingatkannya? Kalau saya kasih peringatan pada orang yang bersangkutan, kejadiannya bisa batal kan?”

“Batal atau tidak, yang memang harus terjadi akan terjadi. Kalau kamu rasa perlu memperingatkan, pasti kamu akan dimampukan. Tapi kalau ternyata tidak perlu, sekuat apapun kamu kepingin, kamu tidak akan bisa.”

“Untuk apa seseorang mengetahui sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah?”

“Kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. Benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu. Dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu, untuk apa? Untuk apa diberi pertanda jika ternyata tak bisa mengubah apa-apa? Untuk apa tahu sebelum waktunya? Memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita yang dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. Seringkali firasat justru menjadi siksa.”

Firasat. Rectoverso. Dewi ‘Dee’ lestari.

Charles Timothy

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.