Tangis Beku

Mungkin pikir mereka aku bohong. Mungkin pikir mereka aku berlebihan. Mungkin juga pikir mereka aku terlalu terobsesi dengan Facebook. Tak ada yang mengertikanku ketika aku bilang aku mempunyai soulmate di facebook. Mereka memang tak mengerti tetapi jika mereka mengerti, aku ingin bilang "Dia itu motivatorku, dia itu baik lebih dari teman-teman disini, dia itu membangkitkan" Tapi sebanyak apapun aku berkata, tak ada yang mengerti perasaanku. Rasaku beda terhadapnya, tak seperti rasaku pada kekasihku. bahkan rasaku lebih kepadanya dibanding rasaku kepada kekasihku. 

Sebelum seperti ini, aku dan dia bagaikan kunci dan gembok yang tak bisa terpisahkan tetapi kini aku dan dia seperti tali yang terputus. Terputus itu karena aku tapi Aku bukan punya pengganti. memang aku memiliki pengganti yaitu pengganti yang jauh seperti dirimu. Itu bukan pengganti tetapi orang baru. mengapa ku anggap orang baru karena sunggunh tak ada yang menggantikan dirimu. Dia jauh berbeda darimu. Memang dia memberikan motivasi sama sepertimu tetapi motivasinya tak seindah motivasimu. Memang dia mengkritik karyaku tetapi dengan nada halusnya. Tak seperti kau yang blak-blakan, kadang membuat hatiku sakit. Tetapi itu yang ku mau, yaitu kejujuran. 

Memang aku bertatap muka langsung denganya. Tak seperti  aku dan dirimu hanya semu belaka. Tetapi yang menjawab adalah rasa. Rasa kenyamanan masih kau pemenangnya. Aku nyaman didekat orang baru itu apa lagi berdiskusi secara langsung denganya sangat nyaman tetapi masih nyaman bila aku bertukar pikiran denganmu walaupun thoh hanya lewat tulisan. Justru dengan tulisanlah kita bisa menyatu. Kau ingat! tulisan yang mempertemukan kita. Janganlah kau berfikir bahwa aku akan menjauh bahkan melupakanmu, itu tak kan terjadi. Tapi yang terjadi aku menjauh karena aku menghargai dan amat sangat takut kehilanganmu. Aku bukan menjauh atau menghilang tapi aku mencoba mengertikan kamu...

Mungkin kau tak bisa melihat aku namun aku tau kau merasakan aku. Jujur, aku takut kehilanganmu. Aku ingin menangis dengan keadaan ini namun tangisku beku. Tangisku tak bisa ku teteskan karena laraku bukan lara ditinggal atau dihianati kekasih tetapi karena aku merasa jauh dari motivatorku. Laraku lebih lara dari itu. Buatku gelisah, buatku tak semangat berkarya namun aku diam sesaat memahami yang ada ternyata kau itu ciptaan Tuhan yang dihadirkan untuku guna ku mengasah ketumpulan pisauku. Kau pasti tau itu...

aku sayang padamu! jangan kau tanya lagi

apabila hatiku menjadi keras seperti batu, kumohon luluhkanlah menjadi krikil. lembut namun tetap keras.
apabila hatiku gelisah, tenangkanlah dengan tulisan-tulisan yang kau buat kusus untukku








Inilah bila hati berbicara yang hanya mampu dituangkan 
dalam goresan berantakan yang tak punya aturan sastra
biarin, thoh ini perasaan! 



Maria Umma

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.