Kopi Darat

Ini kisah tentang Rhino, anak kelas 1 SMK Garuda. Beberapa bulan ini Rhino begitu sering memandang laptop, setiap kali memandang laptop ia jadi senyam-senyum sendiri mirip orang kurang waras.

Rhino seperti terkena penyakit jejaring sosial. Jika ia sudah berada di depan laptop bisa-bisa ia lupa kapan harus makan. Laptop selalu jadi sarapannya setiap pagi. Seperti ada pergeseran budaya sarapan laptop di pagi hari, yah syukurnya itu nggak bikin persediaan makanan habis dan juga meringankan pekerjaan Bi Inah alias Bi Inah nggak usah repot-repot nyiapin makanan buat Rhino. Tapi efeknya pembayaran listrik jadi sedikit membengkak, karena sarapannya berubah jadi menu listrik.

“Den, Aden Rhino,” suara Bi Inah memanggil dari depan pintu kamar Rhino.
“Iya Bi, ada apa?” teriak Rhino dari dalam kamarnya, ia lagi begitu asik di depan laptopnya, chatting bersama wanita pujaan hati yang nun jauh disana. Entah itu benar-benar wanita atau seseorang yg berubah menjadi wanita.
“Ini ada temannya den, aden Max” kata Bi Aminah sambil mengetuk pintu kamar Rhino.
“O iya bi, suruh masuk aja.”

Beberapa saat kemudian Max telah berada di kamar Rhino, tapi Rhino masih begitu asik dengan laptopnya.

“Kok senyam senyum sendiri. Ngeliatin apaan sih?” tanya Max penasaran melihat tingkah Rhino makin bertambah aneh setiap harinya.
“Ini gue lagi chatting sama cewek, lucu banget ni cewek. Manis lagi.”
“Siapa namanya? Manis kayak permen aja, emangnya pernah diemut?”
“Dewi... belum pernah, ntar deh nggak cuma diemut tapi langsung dijilat.”
“Gila lu, anak orang main jilat aja. Anak mana?” tanya Max penasaran.
“Jakarta,” jawab Rhino singkat, “Gue pengen ketemu sama dia.”
“Wew, raja facebook lagi jatuh cinta,” ledek Max.
“Siapa yang jatuh cinta?” tanya Rhino, padahal dia sendiri tahu jawabannya. Sebuah bantal melayang tepat mendarat di muka Max, lemparan Rhino tepat.

“Buset, ni bantal bau banget, lu apain. Satu bulan nggak pernah dicuci ya,” Max mengap-mengap mencari nafas tambahan.
“Hehehe, rasain lu. Itu bantal gue ketekin selama enam bulan dan nggak pernah dicuci.”

“Pantesan ni bantal bau banget,” Max kemudian melancarkan aksi balas dendamnya, ia mengayunkan bantal itu tepat mengarah pada kepala Rhino. Rhino yang lagi membalas chatting repot dibuatnya.

Perang bantal pun terjadi. Tapi Rhino masih punya amunisi lainnya, sebuah bantal guling di tangannya lebih panjang daripada bantal di tangan Max dan tentunya lebih bau. Baunya sangat menyengat menusuk hidung. Tapi tentunya nggak begitu menyengat seperti bau sampah yang ngumpul di kali.

“Rhino, Rhino, kok nggak dijawab” tulis Dewi diseberang sana, “Ya udah, aku off duluan ya, bye” lanjut Dewi lagi.

Max akhirnya menyerah juga setelah melalui perjuangan yang berat menyelamatkan dirinya sendiri dari gempuran bantal bau ketek.
“Udah, udah, gue nggak tahan. Mau pingsan rasanya,” Max memohon-mohon minta ampun, kalau minta duit bisa kena pukul lagi dengan bantal.
“Hahaha, sok ngelawan sih, ini daerah kekuasaan gue.” Rhino berkata dengan angkuhnya sambil mengambil bantalnya yang ada di tangan Max mirip para pahlawan yang berhasil menundukkan musuh. Mengambil senjata musuh-musuhnya
“Iya, iya, gue nyerah.”

“Duh, Dewi, gue kan masih chattingan sama dia tadi,” Rhino pun langsung melihat laptopnya. “Ah, Dewi udah off” lanjutnya sesaat kemudian dengan muka cemberut.
“Kalo gitu gue minjam laptop lu ya,” Max memanfaatkan kesempatan yang ada. Max cerdik dengan pikiran liciknya. Ia berpikir jika ke warnet uang dalam sakunya akan berkurang, itu belum ditambah dengan biaya makan dan minumnya, kalau di tempat Rhino bisa dapat gratis makan dan minum, termasuk gratis biaya internet. “Kenapa nggak minjam laptop Rhino aja,” batin Max, kan bisa ngirit.

“Tuh, pake aja sesuka hati,” Rhino memberi izin.

Begitulah sifat Max selalu bisa memanfaatkan kesempatan yang ada, kalau ada yang gratis kenapa harus bayar.


❂❂❂

Max coba-coba meniru gaya Rhino, cari pasangan di dunia maya dan ia berhasil menemukan seorang targetnya. Malam ini ia akan melakukan pertemuan dengan orang itu. Istilah kerennya kopi darat, bukan minum kopi di darat, tapi berjumpa. Padahal ia baru mengenal target hari ini, dan malamnya sudah mau kopi darat. Sungguh aneh.

Targetnya masih satu negara, satu propinsi, tapi yang terpenting adalah masih satu kota jadi nggak jauh-jauh amat. Setelah putus dari Gina cewek satu sekolah, keinginan Max mencari pacar makin besar, Max mau membuktikan bahwa ia layak untuk dicintai, ia pasti dapat pacar lagi.

“Liat aja Gin, gue akan buktiin sama lu,” Max membatin.

Melalui perjalanan yang panjang, Max ditemani oleh Rhino. Sekitar delapan menit perjalanan akhirnya mereka berdua sampai juga di taman kota setelah mutar-mutar taman selama tiga menit untuk menghabiskan bensin di tangkinya. Boros amat dan nggak layak untuk ditiru.

“Hai Max, kamu disebelah mana ya,” sms cewek teman kopdar Max.
“Aku di sini, nggak jauh dari patung badak,” balas Max secara singkat jelas dan padat. Tidak dikurang-kurangkan apalagi dilebih-lebihkan
“Aku udah di taman. Tunggu sebentar ya, bentar lagi aku kesana,” balas cewek itu lagi.
“Kenapa nggak telepon aja,” celetuk Rhino yang ada disamping Max.
“Biar surprise,” jawab Max singkat dengan senyum anehnya.

Seorang wanita dengan postur tubuh setinggi sekitar lima kaki delapan inci ada di hadapan mereka sekarang.
“Nama kamu Max ya?” tanya wanita itu sambil menunjuk kearah Rhino, mungkin karena melihat Rhino lebih ganteng daripada cowok disebelahnya.
“Iya ini teman saya Max,” jawab Max sambil menunjuk pada Rhino dengan muka pucat pasi.
“Bu – bukan, saya bukan Max, saya Rhino,” jawab Rhino dengan terbata-bata karena dituduh Max.

“Apa buktinya kamu bukan Max?” tanya wanita itu, “tuh teman kamu bilang nama kamu Max.”
“Nama saya bukan Max tapi Rhino, om, eh tante, eh mbak,” jawab Rhino canggung. “Coba tante, eh mbak, telepon nomor handphone Max” Rhino menambahkan lagi ketika ia mendapat ide terbebas dari tuduhan Max.

Wanita itu pun mengambil handphone-nya lalu menekan-nekan mencari nomor telepon Max. Sesaat kemudian handphone Max berbunyi.

“Kamu ya namanya Max,” sergah wanita itu.
“No, Rhino, kabuuur…” teriak Max kalang kabut.
Mereka berdua mengeluarkan jurus kaki seribu, berlari dengan sekencang-kencangnya menuju mobil yang agak jauh diparkirkan dari taman itu.
“Gila man, lu cari pacar kok nggak liat-liat dulu jenisnya,” dengan nada suara meninggi dan terengah-engah Rhino berkata.

“Gue kan niru lu cari pacar di dunia maya.” Max mencoba membela diri.
“Tapi gue liat dulu jenisnya, emangnya lu mau pacaran sama banci?” tanya Rhino pada Max dengan nada kesal, “lu main tunjuk aja tadi, kan bisa bilang disini nggak ada yang namanya Max. Beres kan.”
“Maaf deh, tadi spontan bro, gue ketakutan lihat banci itu” Max berkata sambil nyengir kuda. “Gue nggak akan niru-niru lagi gaya Rhino” batinnya kapok.

Charles Timothy

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.