Selalu Merindukanmu

Kau memang hanya menganggapku sebagai sahabat dan kau tidak memiliki perasaan lebih padaku. Tapi! Aku berbeda denganmu, aku menaruh harapan besar padamu, aku ingin menjadi kekasihmu.

“Rin! Kok bengong sih, kenapa? kamu sakit ya.” Dinda memegang kepalaku

“Enggak kok! Aku capek, aku pulang duluan ya?” Aku melambaikan tangan pada Dinda, sedikit merasa bersalah karena meninggalkanya sendirian.

Disetiap aku terdiam, paras wajahnya yang manis menghiasi pikiranku. Disetiap aku mengingatnya, kerinduan yang menyiksa menghampiri hidupku. Abil! Mengapa kau tak tahu perasaanku?

“Ah! Kok dari tadi masih jam 02.00 mulu, lama banget!” Aku tak bisa tidur memikirkan Abil. Bayangnya tidak mau pergi menjauh. Dua hari tidak bertemu, aku jadi rindu ingin bertemu dengannya. Tapi, mentari pagi masih sangat malu untuk berani menampakkan sinarnya, karena ini memang masih jam 02.00 pagi.

❂❂❂

“Karin! Bangun sayang, udah siang nih.” Mama membangunkanku. Ternyata sudah jam 06.30, aku langsung lari ke kamar mandi, mama hanya senyum-senyum melihat tingkah lakuku.

Motor kupacu dengan kecepatan tinggi. Ketika sampai di sekolah, gerbang hampir tertutup. Untunglah! Aku selamat dari telat. “Aduh penuh, terus motorku ditaruh dimana?” Gerutuku dalam kesendirian.

“Karin...!” Tiba-tiba terdengar suara memanggil namaku.

Akupun menengok, “Abil! Terimakasih Tuhan, tidak sia-sia aku hampir telat. Tapi engkau menjawab kerinduanku padanya,” gumam dalam hatiku.

“Rin! kamu bingung ya, mau taruh motor dimana?” Tanya Abil.

“Eh’em!” Aku hanya menjawab dengan anggukan dan senyum manis. Lalu Abil menggeser motor-motor, agar motorku bisa terparkirkan.

“Sini, aku aja yang parkirin!”

“Thanks!”

Aku langsung lari masuk kelas, untung belum ada guru. Peristiwa barusan sungguh sangat membuatku bahagia, yang tak bisa diungkapkan dengan apapun. Andaikan aku bisa bertemu dengannya setiap hari pasti aku tidak akan mengenal galau, galau karena merindukannya.

“Kok rindu lagi ya? Padahal tadi udah ketemu.”

“Hayo... rindu sama siapa?” Ternyata suaraku yang begitu pelan didengar oleh Dinda.

“A‒apasih kamu itu?”

“Ah kamu enggak asyik!” Dinda langsung berpindah tempat duduk.

Maaf, aku memang tak bisa mengatakannya. Jujur! Hanya Abil yang selama ini mengenang dipikiranku, hanya Abil yang menancap di otakku dan hanya Abil pula yang mampu menciptakan kerinduan yang begitu dalam, sedalam-dalamnya. Tuhan! Selalu pertemukanku dengannya.

Maria Umma

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.