Menggenggam Dunia! Apa Bisa?

Hari ini saya mempelajari sebuah bahasa baru. Bahasa yang hanya dimengerti oleh hati nurani. Halah, lebay.

Ceritanya begini. Saya dan beberapa teman rencananya mau memasak. Nah, Setiap memasak lauk pasti kita membutuhkan bumbu sebagai penyedap rasa kan. Maka berangkatlah saya bersama seorang teman untuk berbelanja ke pasar mencari bumbu masakan. Jadi yang dibutuhkan itu adalah cabe, jahe, sereh, lengkuas, daun salam, dan beberapa jenis bumbu lagi.

Sesampai di pasar, semua berjalan normal seperti yang ada di pikiran saya.

"Cabenya 5 ribu!" teman saya berkata pada pedagang sayur. Maka ditimbanglah cabe seharga 5 ribu.
"Ponponnya ada kah?" teman saya bertanya.
"Ga ada. Udah habis mas!" jawab si cewe pedagang sayur itu.

Karena barang yang dicari nggak ada, maka berpindahlah kami ke tempat lain. Dalam hati saya berpikir, ponpon itu apa? Sejenis sayurkah atau buah. Berwarna merah, kuning, hijau atau apa? Saya masih gengsi untuk bertanya jauh tentang bahan memasak bernama ponpon itu.

"Biarin aja, nanti juga tahu bentuknya. Mungkin penyebutannya berbeda karena nggak ada dalam kamus Bahasa Indonesia." bisik hati saya.

Apakah sahabat ada yang tahu apa itu ponpon?

Setelah berjalan, berjalan, dan berjalan memasuki penjual sayur di bagian dalam. Sampailah kami di tempat seorang ibu dan bapak yang lagi mengemas sayur-sayurnya.

"Ponponnya ada buk?" tanya teman saya.

Saya sendiri cuma diam nggak mengerti. Jadi tugas saya cuma menenteng kertas belanjaan kecil.

"Ada!" jawab buk lek singkat setelah melirik tumpukan sayur-sayurnya.
"Berapa?" teman saya menanyakan harga ponpon.
"Ada 2 ribu, 4 ribu! Mau yang mana?"
"Yang 4 ribu aja."
"4 ribu digabung yo!"
"Iya!" teman saya menjawab singkat.

Terlihat tangan buk lek lincah meraih bumbu-bumbu masakan. Diambilnya beberapa batang sereh lalu memasukkan ke dalam kantong plastik. Diambilnya lagi bumbu-bumbu lainnya seperti jahe, daun salam, kencur, kunyit, dan beberapa jenis bumbu lagi. Tapi dimana yang bernama ponpon?

Sejauh ini apakah sahabat tahu yang dimaksud dengan ponpon? Saya sendiri belum mengerti sebelum buk lek memberikannya.

"Ini ponpon?" akhirnya saya mencoba bertanya pada teman saya itu. Maka dijelaskanlah secara singkat. Ponpon itu adalah campuran bumbu-bumbu seperti sereh, jahe, kunyit, kencur, dan beberapa lagi. Daftar lengkap bumbu-bumbunya saya nggak tahu.

Hemm, saya jadi berpikir. Ternyata saya gak sepintar yang saya duga. Lha, ponpon aja nggak tahu.


Dari sini kita bisa belajar bahwa setiap manusia memiliki bidangnya masing-masing. Ada yang pintar menggambar, ada yang di bidang komputer, ada yang memasak, dan masih banyak lagi bidangnya sendiri. Dan mungkin ada beberapa yang multi talent seperti saya. Multi talent tetaplah multi talent, meskipun multi talent tapi pasti ada bagian yang tidak kita ketahui. Jadi jangan pernah menyombongkan diri.

Sebuah kata penutup dari saya. Sehebat-hebatnya dan secerdas-cerdasnya seseorang, tidak mungkin ia bisa menggenggam dunia. Yang terpenting bukan bagaimana Anda bisa menggenggam dunia, tapi genggamlah bidang yang menjadi milik Anda.

Charles Timothy

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.