Mencari Gita

Matahari pagi tak kunjung tiba. Langit begitu kelam. Aku kedinginan pagi ini ditemani secangkir kopi di beranda rumahmu. Kuteguk sedikit demi sedikit kopi buatan ibumu sambil menunggu tangisan sang cakrawala mereda.

Kata ibumu, kau pergi sejak kemarin pagi dan belum pulang hingga saat ini. Itu tak seperti biasanya. “Gita, aku khawatir akan dirimu, dimanakah kau sekarang? Tahukah kau disini kami cemas menunggu.”

Kopi telah habis kuteguk. Tapi rintik hujan tak kunjung reda, langit sepertinya tak mengijinkanku untuk pergi. Kudengar kabar ayahmu akan pulang hari ini. Padahal rencananya ia akan berada di luar kota selama enam hari. Tapi baru tiga hari ia sudah kembali. Ia begitu khawatir sejak mendengar kabar kehilangan dirimu.

Aku takut hal buruk terjadi padamu. Mungkinkah kau menjadi korban perdagangan wanita seperti berita yang ramai diperbincangkan di televisi swasta. Sekarang begitu marak kasus perdagangan wanita. Aku tak bisa membayangkan hal itu terjadi. Aku harus segera mencarimu, aku tak bisa lagi menunggu.

Dalam rintik hujan aku berjalan. Sambil menenteng fotomu aku bertanya pada orang yang kutemui di jalan. “Pernahkah kalian melihat wanita ini?” tanyaku sambil memperlihatkan fotomu. Kurasa tak satupun dari mereka tahu, karena mereka mengabaikan pertanyaanku.


❂❂❂

Satu jam, dua jam, tiga jam telah terlewati. Tak terasa sekarang sudah sore hari, tapi batang hidungmu belum terlihat juga. Kemana lagi aku harus mencari. Pikiranku kalut dikikis oleh butiran-butiran gerimis.

Aku berjalan selangkah demi selangkah melewati pekuburan, kulihat banyak orang berkerumun. Aku mendekat perlahan.

Di pekuburan itu ada ayahmu. Ada juga ayah dan ibuku, serta paman dan juga bibiku. Banyak warga yang berkumpul, tapi tak kulihat dirimu. Dimanakah kau berada? Rasa penasaran membuatku melangkahkan kaki semakin cepat, membelah rinai-rinai hujan.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku, tapi tak ada seorangpun yang menjawab.


Bunga-bunga telah ditabur. Satu-persatu warga meninggalkan pekuburan. Aku menangis tersedu-sedu, tak bisa menerima kenyataan. Semua telah berlalu, mungkin hanya saat ini aku bisa mengatakannya padamu. “Gita, aku mencintaimu.”

Halilintar menggema, hujan pun semakin deras. Langit turut berduka dan ingin menangis bersama.

“Gita! Aku tidak apa-apa. Lepaskanlah nisan yang bertulis namaku itu,” kupeluk Gita, tapi ia tak teraba. Sekarang dunia kita tak sama, kita dalam dimensi yang berbeda.

Memelukmu, mungkin hanya angan-angan
Juni 2012 - Januari 2013

Charles Timothy

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.