Ekspedisi Gudeg

Seminggu setelah kematian Iin sang kembang Desa Parangtritis yang populer dengan pesona kecantikanya. Desa Parangtritis menjadi desa yang menakutkan. Kabarnya mayat Iin gentayangan. Secara... kematianya sangat mengenaskan. Kabarnya Iin mati ditabrak oleh segerombolan preman yang hendak melakukan kekerasan seksual padanya. Iin ditabrak dari belakang hingga punggunya berdarah lalu para preman itu tidak bertanggung jawab. Sampai sekarang ada beberapa pelaku yang belum ditangkap oleh polisi.

Iin menampakkan dirinya dengan cara berjualan gudeg dijalan parangtritis di tempat dimana ia ditabrak. Lalu ketika ada yang membeli, Iin langsung mengibaskan rambutnya yang panjang terurai layaknya iklan model sampo kayak di tivi-tivi gitu dan pembeli ketakukan karena melihat punggung si penjual gudeg yang bolong dilumuri oleh darah-darah yang mengucur.


❂❂❂

Nayla, Rara dan Erick ingin menyelidiki kebenaran tentang si hantu penjual gudeg itu. Kalau bisa sih menyelesaikan masalahnya, agar Desa Parangtritis tempat mereka tinggal aman dan tentram. Kabar ini juga berdampak pada Pantai Parangtritis, sejak ada kabar itu, pengunjung Pantai Parantritis sedikit menurun.

Malam Jum’at kliwon tepatnya malam ini. Mereka bertiga akan melakukan penyelidikan, Bisa dibilang nekat. Malam Jum’at kliwon eee...

“Gimana Rick, siap kan untuk aksi nanti malam?” tanya Nayla pada Erick.
“Yo harus tha lah... tapi jujur aku takut lhow...”
“Ah kamu laki-laki kok cemen tha. Lek kamu Ra pye?” Nayla beralih bertanya pada Rara.
“Yo siap lah, banget malahan. Lha kamu sendiri Nay?”

“Setengah... hehehe!” jawab Nayla, meragukan.
“Yoalah... Nayla, Nayla, kirain kamu lebih siap dari kita, eh malahan. Ngatain aku cemen lagi, dasar Nayla!” Gerutu Erick, sedikit kesal.
“Udah-udah... pokonya harus siap, enggak ada takut ataupun setengah.” Jelas Rara.

“Lah, yang kita selidiki bukan maling tapi hantu.” Jawab Nayla.
“Ia, hantu.” Tambah Erick.
“Mau protes...?”
“Tidak...” jawab Nayla serempak dengan Erick.


❂❂❂

Malam pun tiba. Penyelidikan sundel penjual gudeg pun siap dimulai. Penyelidikan ini mereka namai dengan “Exspedisi Gudeg Si Sundel” agak aneh sih, tapi lebih simple dan ctar....

Cukup 5 menit dalam perjalanan. Mereka sampai ketempat tujuan, yaitu dijalan tepat si Iin ditbrak atau tempat biasa sundel berjualan gudeg. Sepi. Mencengangkan. Suara-suara aneh. Itulah yang tergambar di tempat seram ini. Setelah lama sekali menunggu sekitar 15 menitan, masih sebentar ya... 15 menit terasa lama karena dihantui rasa ketakutan. Sosok wanita muncul dari arah yang tak kita ketahui. Dia tak seperti penjual gudeg yang lain, memakai baju khas jogja ataupun berdandan ala wanita jogja. Mereka mengamati dari ujung kaki hingga ujung kepala, mereka dibuat terpesona. Memakai sepatu high heels, celana jeans ketat, baju ketat. Rambut panjang bergelombang dibiarkan terurai. Beee... model apa hantu itu? Memang di kuburan ada salon ya?

Setelah 10 menit terbengong, mereka menghampiri si wanita penjual gudeg itu.

“Malam mbak....” tanya Nayla, gemetar.
“Mau gudegnya dek?” tanyanya, lembut.
“Mbak, kenapa enggak jadi model aja?” tanya Erick iseng.
“Dulu saya model tapi sekarang sudah ndak bisa lagi...” sesalnya.
“Loh kenapa mbak? Kan mbak cantik dan sexy.” Tambah Rara.

“Mboh... jangan tanya-tanya lagi, jadi ndak beli gudegnya?”
“Jadi!” jawab mereka, serempak.
“Tapi tolong garukkan punggung saya dulu.” Pinta si penjual gudeg.

“Saya aja!” Jawab Erick, semangat. Sepertinya Erick lupa. Bisa saja wanita ini adalah sundel bolong yang diceritakn oleh warga. Nayla dan Rara berusaha memperingati Erick tapi Erick ngeyel, mungkin sudah dibutakan dengan kecantikan si wanita penjual gudeg itu.

Pelan-pelan Erick membiaskan rambut yang menghalangi objek yang akan digaruknya. tiba-tiba Erick teriak ketakutan.

“Ih..ih..ih...” tawa si penjual gudeg yang ternyata sundel bolong.
“Ha...su su bolong..” teriak Erick. Erick segera mendekat ke Nayla dan Rara.
“Kok nanggung sih, kamu kira aku susu sapi opo?” protes sundelnya.
“Maaf...ha...sundel bolong...aaaa...” mereka bertiga teriak sejadi-jadinya.

“Hei... biasah aja kenapa, ndak usah teriak-teriak atau bahkan lari. Kalau lari kalian saya bunuh.” Ancam si sundel.

Sontak kita langsung berhenti.

“Ia ia... kita tidak lari.” Keringat dingin mengucur, mau tidak mau mereka kembali dari pada mati, iya kan.
“Kita tenang kawan, jangan takut atau kita mati.” Kata Rara, pelan.
“Tenang-tenang, itu hantu.” Cetus Nayla.
“Pulang aja yuk.” Tambah Erick.

“Nanggung, ayolah kawan.” Paksa Rara. Nayla dan Erickpun menurut saja. Mereka mendekat walau dengan tubuh gemeteran, lemas, nafas hampir tiada.

“Mbak, Iin kan?” Tanya Rara dengan beraninya.
“Mau tau aja, apa mau tau banget?”
Batin Nayla, ini hantu alay juga ya? “Mau tau bannggettttt....” Jawab Nayla.

“Ia saya Iin yang mati seminggu yang lalu. Kok kalian ndak kabur, saya sundel bolong lowh...”
“Lha katanya tadi suruh biasa aja!” celetuk Erick.
“Walau begitu mbak tetep hantu dan kita tetap merasa takut.” Tambah Rara.
“Terus kalau saya hantu kenapa? Saya harus teriak ih..ih..ih... sambil terbang-terbang gitoo?”

Alay banget nih hantu. Kalau aku enggak takut, mulutnya udah kusumpel pakai batu nih sundel, batin mereka.

“Mbak? Kenapa mbak menakuti warga yang enggak bersalah, kan kasian warganya?” tanya Nayla.

“Emang kenapa? Masalah buat kalian-kalian, yang menakuti saya kok yang masalah kalian. Kalian mau saya bunuh sekarang juga?” ancamnya, siap mencekik.

“Ia..ia..ia, ampun mbak!” pinta mereka, serempak.
“Muka kalian kayak kodok, sudah dibilang biasa aja saya juga pernah hidup kayak kalian.”
“Ia-ia mbak, terus gudegnya masak dimana? Atau dikuburan ada dapurnya?” tanya Rara iseng untuk mencairkan suasana.

“Saya nyolong ke ibu-ibu penjual gudeg, kadang mereka melihat dan langsung neriakin maling tapi saya bilang sama mereka kalau saya bukan maling tapi hantu, eh mereka malah ketawa. Ya uwes saya langsung pergi ae..” jelasnya, panjang juga.

“Mukanya mbak masih seger enggak kayak hantu-hantu yang lain sih..hehehe.” Celetuk Erick sambil cengar-cengir. Si sundel hanya senyum-senyum, hantu kalau senyum keliahatan manis juga. “Kenapa mbak kok jualan gudek, apa alasanya?” tanya Erick iseng lagi, sepertinya enggak ada pertanyaanya yang enggak iseng.

“Ya kalau saya jualan blangkon, saya harus nyolong blangkon juga dong? Blangkon kan ndak se simple gudeg buatnya. Hantu juga punya perasaan kaleee... ih ih ih....!” sundel sangat girang, tawanya begitu ctar membuat telinga mereka sakit mendengarnya.

“Oh bener juga yo?” jawab mereka serempak

Mereka terlihat semakin akrab dengan mbak sundel. Mereka terus bertanya-tanya seperti dalam sebuah acara reality show kayak di tivi-tivi tapi persisnya kayak sesi tanya jawab dipemilihan putri indonesia, si hantunya mau saja menjawab setiap pertanyaan mereka. Tak ada lagi rasa takut yang menempel dalam diri mereka, orang sundelnya lucu gitu siapa juga yang takut. Tapi sundelnya curang, kadang mengancam membunuh. Dari ancamanya, ya jelas mereka takutlah.

“Saya mau ke Parangtritis, sekarang!” Kata si sundel.
“Kenapa kesana?” tanya mereka, serempak lagi.

“Mentang-mentang saya hantu, saya harus di kuburan terus?” jawabnya cuek. “Orang yang nabrak saya setiap malam nongkrong disana, kebetulan ini malam Jum’at kliwon. Di malam ini mereka harus mati.”

“Jangan main hakim sendiri mbak, lebih baik mbak pasrahkan pada kita dan polisi. Kita janji akan menuntaskan masalah ini!” cegah Rara.

“Lelah menunggu polisi, kamu berani melarang saya? Kamu saya bunuh.”

Mbak sundel langsung mencekik leher Rara, Rara kesakitan tak tertolong. Kali ini hantu ini bener-benar marah, dendamnya begitu besar sehingga nyawa harus dibayar dengan nyawa.

“a’a’a’....” Teriak Rara kesakitan.
“Mbak tolong lepasin teman kami, ia baik kita ndak akan melarang mbak lagi. Tolong mbak, suka-suka mbak aja dech.” Pinta Nayla.
“Mbak sundel cantik... lepasin teman kita dong. Plis....” Pinta Erick sambil berlutut.

“Tapi ada syaratnya?”
“Apa mbak?” tanya Nayla dan Erick berbarengan.
“Kamu cium saya?”

Ciah, nih hantu genit juga. 2013 ada-ada aja yang aneh, batin Nayla.

“Aku?” jawab Erick, terkejut.
“Udahlah Rick, demi Rara.” Bisik Nayla pelan.
“Tapi Nay, walau dia cantik tapi dia tetaplah hantu, aku juga pilih-pilih kali.”

Rara semakin kesakitan. Erick serba salah. 5 menit berfikir dan mencari keputusan, akhirnya Erick bersedia dicium oleh mbak sundel. Lalu Rara dilepaskan, Rara merasa kesakitan. Lehernya merah dan batuk-batuk.

“Saya minta uang buat ongkos ojek?” Pinta si sundel.
“Uang? Naik ojek? Kan bisa ngilang atau terbang!” Tanya Nayla, bingung.
“Suka-suka dong, kasi ndak kalau ndak...”
Segera Rara mengulurkan uang kepadanya “Ia..ia, ini!”

“Ha, 20.000? kurang!”
“Ini 50.000 mbak!” Kutambahi menjadi 70.000
“Cuma 70.000, kurang. 200.000!”

Waduh ni hantu matre juga, apa dulu hidupnya begini ya? Kurang tau sih, batin Nayla.

“Kan deket 10.000 aja cukup mbak!” Celetuk Erick
“Cepat kasih...” bentaknya, sambil siap-siap mencekik

Terpaksa uang mereka melayang 200.000. Lalu si mbak sundel itu langsung nyelonong aja tanpa berterimakasih atau berpamitan gitu. Bruuukk... high heelsnya terlalu tinggi. Ia terjatuh. Ada-ada aja ulahnya.

“Appa? Mau ketawa, awas kalau ketawa...”
“Ndak mbak, mau kita tolongin mbak?” tawar Erick.

“Ndak, saya mau terbang aja!” Hantu itu langsung terbang, kenapa enggak dari tadi aja. Mereka melambai-lambaikan tangan untuknya, diapun juga. Mereka berfirasat tidak akan bertemu dengan mahkluk seperti itu lagi karena pasti langka sekali.

Tak terasa udah tengah malam melakukan ekspedisi gudeg si sundel aneh bin ajaib ini. Peh... ndak nyangka mereka kalau bakal seperti ini. Ternyata hantu gokil itu tidak hanya di tivi doang di desa mereka juga ada. Mungkin dikuburan ada sekolah lawak kali ya. Ada ndak ya generasi berikutnya yang lebih gokil lagi? Entahlah, paling ia cuma ada satu ya kan.

“Pye, puas ndak?” Tanya Nayla pada Rara dan Erick

“Buanngeettttttt... ctar membahana badai halilintar.” Jawab Rara menirukan gaya khas salah satu artis indonesia yang biasa mengucapkan kata-kata itu. Kok sempat-sempatnya Rara begitu, padahal dia habis dicekik.

“Ctar apanya, lah aku pye? Aku ternodai ki..” keluh Erick.
“Pengalaman tak terlupakan itu Rick... hahahahaha.” jawab Nayla dan Rara bebarengan.
“Aku perlu mandi kembang 100 rupa nich.”
“Hahahaha....” Tawa mereka.

Mereka pulang kerumah Rara. Pagi hari mereka dikejutkan dengan berita dari ibunya Rara. Katanya, si sundel penjual gudek sudah pensiun jualan. Mungkin mau jadi pelawak, abis dia gokil banget. Bukan, ternyata karena sundel sudah berhasil balas dendam dengan membunuh para preman yang menabrak dirinya. Tepatnya ia melakukan balas dendam itu di Pantai Parangtritis sesuai dengan apa yang sundel katakan tadi malam. Berarti jika itu benar, meraka tidak akan bertemu dengan hantu gokil itu lagi dong, yah....

“Buk, kok rame-rame ada apa tha?” Tanya Rara pada ibunya.
“Gini lho nduk, sundel penjual gudek yang katanya Iin itu, wes pensiun karena wes berhasil balas dendam.” Terang sang ibu.
“Pensiun gimana bude?” Tanya Nayla.
“Katanya, Iin nulis di pasir Pantai Parangtritis.”

Seusai ibunya Rara menjelaskan. Mereka langsung OTW kalau ndak tahu on the way ke Pantai Parangtritis. Mereka langsung mencari tulisan itu.

“Eh Nay, ini paleng tulisane.” Rara menemukanya.
“Sa-ya pensiun jadi penjual gudeg, capek. Saya sudah tenang...” baca Nayla agak kesulitan.
“Gila... rempong amat nich sundel.” Kata Erick sewot.

“Lowh ini uang kita, tapi kok Cuma 100 yo kan kita ngasihnya 200 kan?” Rara menemukan uang disebelah tulisan itu, yang hampir tertimbun pasir.

“Buat bekal perjalanan kembali kekuburan mungkin.” Celetuk Erick, cuek.
“Enek-enek wae..” Jawab Nayla dan rara, serempak kesekian kalinya. Ya karena sehati.

Setelah si sundel penjual gudeg dengan terang-terangan menyatakan pensiun. Kini sepanjang jalan menuju parangtritis tak seseram ketika masih ada Iin gentayangan. Masyarakat dan pengunjung Pantai Parangtritis ndak perlu takut lagi. Bahkan pantai kembali ramai. Mereka yakin semua ini berkat mereka. Tim dadakan dari ekspedisi si penjual gudeg.

Maria Umma

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.