Batik, I Love U So Much

Apa yang salah denganku? Mengapa semua menganganggapku kuno, kampungan enggak ngetrend, emang ada yang salah ya? Aku mencintai Batik sudah seperti cintaku pada keluargaku. Batik adalah pakaaianku sehari-hari dan pakaianku dalam suasana apapun jua. Aku tak peduli setiap kali aku memakai batik banyak yang pro dan kontra, tapi lebih banyak sih kontra. Entah mengapa mereka bisa begitu, padahal batik adalah budaya asli dari indonesia dan sudah diakui oleh UNESCO. Seharusnya mereka kagum padaku, aku sebagai orang indonesia masih mudah lagi, mau melestarikan budaya sendiri di zaman globalisasi ini. Tapi yang aku dengar adalah kepahitan yang keluar dari mulut mereka, entahlah aku tak peduli walau menyakitkan.

Kecintaanku terhadap batik tak bisa diragukan lagi. Tak sekedar mencintai, aku juga sering ketempat pembuatan batik untuk belajar membantik. Walaupun hasilnya tak sebagus para profesional, tapi aku selalu terkesan dan ingin mencoba lagi karena membatik itu sungguhlah menyenangkan. Apalagi pembuatan batik butuh kesabaran dan ketelatenan, itulah yang aku suka. Dengan belajar membatik aku bisa melatih kesabaranku. Termasuk juga melatih kesabaran menghadapi orang-orang yang mengeluarkan omongan enggak jelas. Kata-kata mereka itu sungguh menyakitkan, ingin rasanya mulut mereka aku sumpel dengan batik tapi batik terlalu indah buat mereka, mungkin disumpel pakai lap, biar tau rasa.


❂❂❂

Malam ini Leo kekasihku mengajakku ngedate di sebuh restoran ternama diBandung. Tumben Leo mengajakku ketempat yang wah itu.

“Hai! Nunggu lama ya?” Sapaku ketika aku datang.

“Hai! Enggak kok baru bentar.”

Leo menyiapkan kursi untukku duduk. “Kenapa kamu makai batik? Aku sudah bilang untuk malam ini kamu jangan memakai batik, ini malam yang spesial.” Leo membentakku, aku tak kaget lagi karena dia sering membentakku hanya karena pakaianku batik.

“Sudah aku bilang, pakaianku batik semua dan jika kamu tidak suka jangan lihat bajuku!”

“Seharusnya ini menjadi moment indah tapi kamu menodai dengan cara berpakaianmu, kamu anggap aku apa? Kata-kataku tak kau hiraukan.”

“Bagiku ini moment buruk, kamu membentakku ditempat seperti ini. Terserah kamu seharusnya itu pertanyaanku padamu!”

“Sebenarnya kamu itu mencintaiku atau tidak? Aku benar-benar lelah dengan sikapmu!”

“Aku memang mencintaimu tapi kamu tidak berhak mengatur hidupku!”

Nada Leo semakin menjadi-jadi. “Oh jadi begini, percuma jika kamu tak mendengarkan kata-kataku.”

“Kamu harus tahu, aku sudah lelah dengan aturanmu yang melarangku memakai batik.”

“Oke! Cukup sampai disini hubungan kita dan lupakan keinginan kita untuk menikah.”

“Oke! Aku lebih mencintai batik dari pada kamu!”

“Menikah sana dengan batik!”


“Iya! Lebih baik aku menikah dengan batik!” Aku pergi meninggalkan restourant itu.

“Oke fine! Siapa yang mau sama orang kampungan kayak kamu. Huah...” Leo berteriak-teriak tanpa memiliki rasa malu.

“Terserah apa yang kamu kata!”

Hubunganku berakhir sampai disini bersama Leo hanya karena Batik!. Tapi aku memang sudah lelah bercekcok dengan Leo hanya karena batik. Aku mencoba bertahan dengan Leo walapun Leo sangat membeci batik. Entah kenapa Leo begitu benci dengan batik, itulah sebabnya aku bahagia dia meninggalkanku.

Siapa yang bisa ku ajak curhat tentang ini, teman-temanku? Tidak mungkin pasti mereka mengganggapku salah, karena alasanya hanya karena batik. Rani, yah mungkin hanya Rani yang mendukung aksiku mencintai batik berlebihan dan hanya kepadanya aku mengeluh.

“Ran! Apasih salahnya aku dengan batikku? Leo memutuskan aku hanya gara-gara waktu ngedate aku selalu memakai batik, jahat sekali dia. Dan setahun aku berpacaran denganya dia tak pernah mau jujur denganku soal kebencianya dengan batik.” Keluhku pada Rani.

“Cuma gara-gara itu Key? Dia cinta sama kamu apa cinta sama apa yang kamu pakai sih? Alah dia benci batik Cuma alasan, dia gengsi aja kali kamu terlalu formal” Rani gregetan.

“Sebelum jadian katanya sih cinta, katanya sih sayang tetapi setiap kali aku pakai batik dia marah-marah, dia itu seperti punya kebencian yang mendalam dengan batik!”

“Sabar ya! Mungkin dia hanya mencintaimu dari parasmu yang cantik aja!”

“Aku juga merasa begitu, dia sering kali bilang begini, kamu itu cantik tapi kenapa kamu memakai batik yang enggak selaras dengan parasmu.”

“Yah kamu memang cantik kok! Tapi kamu tak patut digitukan, itu namanya dia sama sekali tak menghargaimu.”

“Kamu juga cantik kok! Ah sudahlah, lebih baik segera putus dari pada aku selalu dikekang oleh dia, dilarang memakai yang aku suka!”

“Sabar ya neng! Dia bukan yang terbaik untukmu dan tentunya dia bukan jodohmu!” Rani memelukku penuh dengan kehangatan sahabat.

“Ia, dia bukan jodohku!”

Impian menikah di tahun ini gagal sudah, tapi aku tidak mau menyalahkan batik. Bukan batik penyebabnya dan beruntunglah karena batik telah menyelamatku dari laki-laki yang hanya mencintaiku dari penampilanku saja. Kenapa hidupku kelam sekali sejak aku mencintai batik?


❂❂❂

Biar semua penat yang menumpuk hilang, jalan-jalan ke pantai sepertinya asyik walau tanpa seorang kekasih. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah berpasang-pasangan. Melihat diriku? Hanya sendiri dalam kesepian. “Bruk!” Aku menabrak seorang Bule cakep.

“Auch! I’m so sorry!” Bule itu merasa bersalah.

“No problem!” Jawabku.

Bule itu tersenyum-senyum kearahku, gila kali ya tapi dia cakep sekali. Aku langsung pergi meninggalkan bule aneh itu.

“Wait for me!” Teriaknya. “Nama kamu siapa?” Eh ternyata dia fasif berbahasa indonesia, walaupun kental dengan logat asingnya seperti artis indonesia yang blasteran itu.

“Keyla! Ada apa ya?” Tanyaku penuh dengan rasa heran.

“Nice name! Nice to meet you! And baju kamu bagus sekali, keren!” Dia memuji batikku.

“Sungguh? Wah terimakasih banget ya, kamu suka juga sama batik tapi sebelumnya siapa nama kamu?”

“Finn! Iyah aku sangat suka batik, aku cinta indonesia dan aku cinta sekali dengan batik, aku ingin memiliki baju-baju batik!” Wajahnya sumringah sekali, terlihat Ia memang benar-benar mencintainya.

“Wah aku salut sama kamu Finn, orang indonesia aja belum tentu suka dengan batik tapi kamu yang pendatang dari luar aja suka dengan batik!”

“Batik itu sangat unik dan dibuatnya dengan penuh rasa sabar jadi aku suka. Bisa bantu aku tidak?” Pintanya

“Bantu apa ya finn?”

“Aku ingin mencari baju batik untuk kupakai but aku tidak ada teman yang bisa membantuku, may be kamu bisa!”

“Ya jelas dong! Dengan senang hati aku bisa!”

“Thanks Keyla! By the Way boleh minta nomernya?” Entah ini rasa apa, mengapa aku terasa senang sekali saat Finn meminta nomerku.

“Boleh dong!” Segera aku menyebutkan angka-angkan nomer Hpku “Itu! Baiklah aku pulang dulu ya Finn” Tangan ku melambai-lambai kearahnya

“Oke! Be careful!” Perhatianya.

Hatiku berbunga-bunga sejak bertemu dengan Finn, bayangan parasnya membekas dalam diotakku ditambah lagi Finn menyukai batik. Aaauuu...!!! Finn aku jatuh hati padamu. Ah tidak-tidak aku belum mengenalnya. Tak sabar dengan hari besok, aku ingin bertemu lagi dengan Finn dan menemaninya untuk bersenang-senang dengan batik, emm pasti seru.

Serasa bermalam-malam aku menunggu pagi, akhirnya pagi yang kutunggu datang juga. Yes! Bertemu dengan Finn.

Benar-benar asyik pergi bersama orang yang sama-sama cinta batik, apalagi perginya bersama bule, cakep lagi.

“Kamu sangat baik sekali dan kamu juga cantik, terimakasih ya!” Puji Finn.

“Emmm!! Sama-sama.” Sedikit tersipu-sipu

“I like you! Orang indonesia sangat menyenangkan, sangat mencintai budayanya!”

“Terimaksih! Tapi bukanya lebih menyenangkan orang-orang dari negaramu!”

“Tidak! Lebih menyenangkan orang disini. Disini orangnya ramah-ramah, baik dan suka sekali senyum. I like it!” Finn menggangkat jempolnya.

“Ah kamu bisa aja! Wah aku bangga sebagai orang indonesia, oh ya suka sama batik sejak kapan?”

“Sejak setahun lalu ketika aku baru ke indonesia dan menginjakkan kaki di Bali, aku langsung jatuh hati.”

“Wah amazing!” Aku semakin mengaguminya.

Kami tenggelam dalam obrolan yang seru. Kami menemukan kecocokan satu sama lain yang dibawa oleh arus kecintaan terhadap batik. Dari berbelanja batik kami seperti menemukan benih-benih cinta yang mulai tumbuh. Itu menurutku, entah menurutnya aku sih berharap dia juga merasakan demikian.

Finn mampu membuatku melupakan orang-orang yang suka mengganggapku kampungan dan juga dari Leo orang yang sudah mendepakku dari hidupnya untuk selamanya, hanya karena batik. Itu sungguh menyakitkan tapi setelah bertemu dan berkenalan dengan Finn, semuanya berubah menjadi hidup yang membahagiakan. Finn membuatku semakin mencintai batik.


❂❂❂

Sekarang senyumku saat memakai batik lebih lebar dari sebelum mengenal Finn. Rani sahabatku tak lagi kusuguhi dengan keluhanku, tetapi kusuguhi dengan senyum sumringahku. “Ehm...sepertinya kamu bahagia sekali dekat dengan si bule, tiap hari senyum terus, lebar lagi senyumnya.” Ledeknya

“Namanya Finn, Ran!”

“Cie..iya iya Finn. Kamu suka beneran ya sama dia?” Matanya menatapku penuh dengan tanda tanya.

“Iyalah, tentunya kamu kan tahu aku sangat menyukai bule!”

“Beneran kasmaran nih, jawaban kamu tanpa diragukan lagi!”

“Ya siapa yang enggak kasmaran Ran, dia memang membuatku terpanah tapi jujur aja aku lebih ingin dia menjadi suamiku!”

“Tunggu dulu, iya aku tahu kamu sangat terobsesi dengan bule. Tapi memangnya kamu sudah mengenal dia lebih jauh? Jangan buru-burung Key!”

Kupegang tangan Rani. “Aku enggak mau main-main lagi, aku ingin serius. Tapi sebelumnya maafin aku ya?”

“Maaf! Kenapa kamu minta maaf, apa yang salah?” Rani bingung.

“Aku tidak menceritakan semuanya kepadamu, sebenarnya aku sudah mengenal Finn dari empat bulan yang lalu, maaf aku baru cerita sama kamu.”

“Gitu ya? Jahat nih, tapi enggak apa-apa kok yang penting kamu bahagia itu saja membuatku juga bahagia, semoga impianmu tercapai ya Key!”

“Thanks ya Ran! Amin.” Ku memeluk Rani, memang Rani yang hanya mengertiku.

Lima bulan saling mengenal satu sama lain ku rasa cukup. Aku tak bisa menolaknya.

“Aku mencintai batik, tetapi aku lebih mencintaimu, i love you!” Kata Finn sambil berlutut dihadapanku dan memberiku batik yang telah ia rangkai menjadi bunga rose.

“Aku mencintai batik tetapi aku lebih mencintaimu, i love you too!” Batik berbentuk bunga kuterima dengan senang hati.

“Aku bahagia bisa mendapatkan wanita indonesia yang cantik seperti kamu dan pintar dalam berbatik” Pujinya

“Aku juga bahagia bisa kamu dapatkan karena kamu mencintai batik sama sepertiku, karena selama ini banyak yang membuangku karena aku suka batik!”

“Aku tidak akan membuangmu! Kamu wanita sempurna dimaataku!”

“Thank you Darling!”

Selang waktu dua minggu Finn melamarku untuk aku menjadi istrinya. Kebahagiaan ini tak bisa lagi aku ungkapkan dengan kata-kata, tak bisa kutuliskan dengan huruf-huruf dan tak bisa ku goreska dengan lukisan. Dalam mimpiku, aku bermimpi bisa menikah dengan bule ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Batik terimakasih, berawal dari sama-sama suka dengan batik lalu menjadi suka sama lain. Pengalaman pahit didepak karena dianggap kampungan, tak patut lagi diingat-ingat. Karena sekarang aku akan menikah dengan orang yang mencintaiku apa adanya.

“Selamat ya Keyla sahabatku, Berhasil nih nikah sama bule sekaligus pecinta batik pula!” Ucap Rani.

“Hahaha, sama-sama Rani, terimaksih juga. Hidup batik!”

“Hidup batik!”

“Hahaha...!”

“Lihat Ran, yang selama ini aku memakai batik dianggap kampungan kini batik membuatku mampu meraih mimpi.”

“Ia tuh! Aku jadi terobsesi juga ah ama batik biar aku bisa nikah juga sama bule. Hahaha..”

“Hahaha, amin!”

Batik membuatku kampungan dimata mereka. Batik membutku dicela orang. Lebih parah lagi batik membuatku dibuang oleh kekasihku. Tetapi batik telah mempertemukanku dengan pangeran impianku. Terimakasih batik, terimakasih Indonesia kau telah menciptakan batik. I love you batik.

Maria Umma

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.