13 Dalam Hidupku

13 itu keramat. 13 itu angka yang paling ditakuti. 13 adalah simbol kesialan. Mitos kadang tak datang tiba-tiba, mungkin saja dulu pernah ada cerita nyata dibaliknya.

Aku terkadang heran melihat banyaknya bangunan-bangunan tinggi yang tidak memiliki lantai 13, yang ada hanyalah lantai 12 lalu kemudian 14. Aku jadi berfikir, apakah mereka tidak pernah diajarkan berhitung sewaktu masih sekolah dasar dulu, bahwa diantara 12 dan 14 ada angka 13. Dan sialnya, aku menjadi bagian dari mereka, mempercayai tentang angka 13.

Awalnya aku tidak yakin. Tapi setelah semua kesialan-kesialan itu datang menghampiri, aku mulai mempercayainya.


❂❂❂

“2013 adalah tahun sialmu, angka 13 akan mengakhirinya,” kata nenek cenayang sambil mengelus-elus bola kristalnya.

“Apa yang terjadi padaku? Apakah aku akan tamat tahun depan?” tanyaku heran.

“Tidak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri,” nenek itu berkata sambil sesekali terbatuk. “Walaupun aku tahu, aku tidak akan mengatakannya padamu,” lanjutnya kemudian sambil meraih sirih dalam mangkuk kecil, lalu mengunyahnya.

“Jadi, aku sudah selesai diramal? Berapa bayarannya?”

“Iya, sudah selesai, cuma 13 ribu.”

“Wah, murah banget,” aku bergumam memotong kata-katanya. Aku mengambil uang 50 ribu lalu menyerahkan ke hadapan nenek itu. Tapi nenek itu tak mengambil uang yang kusodorkan, ia sibuk menulis-nulis di atas kertas kecil.

“Ini notanya,” nenek itu berkata sambil menyobek kertas kecil yang ditulisinya. “Bayarnya di kasir,” tambahnya lagi sembari tersenyum manis, tapi terlihat kecut.

Aku mengambil kertas tagihan, lalu menuju kasir meninggalkan nenek itu. Dalam hati aku tertawa. Ternyata di zaman modern sekarang ini, cenayang pun punya kasir.

“Ini bayarannya,” aku berkata sambil menyerahkan uang 50 ribu beserta nota tagihan di depan meja kasir.

“Yang benar aja, ini sih kurang,” penjaga kasir itu berkata.

“Jadi, berapa bayarannya?”

“Total seluruhnya 130 ribu.”

“Ah, mahal banget. Tadi nenek di dalam bilang cuma 13 ribu. Iya kan Rev?” aku meminta persetujuan adikku, Reva, atas kata-kata yang kulontarkan. Reva hanya menggangguk menyetujui, ia tak banyak bicara.

“Ya, memang 13 ribu, tapi untuk satu pertanyaan. Disini ditulis ada sepuluh pertanyaan,” kata petugas kasir itu menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk nota tagihan.

Aku mengambil dompet, lalu menarik uang seratus ribuan dan menyerahkan pada kasir itu. Benar-benar sial, kenapa aku tidak bertanya dulu biayanya secara detil sebelum masuk dan minta diramal. Padahal hari ini masih tanggal 30 Desember. Jangan-jangan ini kesialan pertamaku. Apa benar yang dikatakan nenek itu? Apa mungkin akan terjadi sesuatu padaku setelah ini? Segumpal pertanyaan tak terjawab terkurung dalam labirin pikiranku.


❂❂❂

Kegelisahanku semakin menjadi ketika sore hari menjelang malam tahun baru. Hujan sangat lebat, tahun ini dipastikan aku akan melalui tahun baru dengan berdiam diri di rumah.

Setelah kejadian malam tahun baru, serentetan kejadian-kejadian aneh datang menghampiriku. Handphoneku hilang, ATM macet, bahkan hingga terpeleset di muka umum yang membuatku sangat malu. Kesialan-kesialan selalu saja datang menghantuiku setiap hari.

Apa benar tahun ini memang tahun kesialanku? Tidak terbayang berapa hari lagi yang harus kulewati. Dalam setahun ada 365 hari, untungnya tahun ini bukan tahun kabisat yang punya 366 hari. Sekarang baru dua belas hari kulewati, dan masih tersisa 353 hari lagi. Haruskah aku melewati hari-hari itu dengan kesialan.

Terngiang ditelingaku kata-kata nenek cenayang itu, “2013 adalah tahun sialmu, angka 13 akan mengakhirinya”.


❂❂❂

“Kak, pinjam motornya dong,” suara Reva mengagetkanku.

“Iya, pake aja.”

“Kuncinya mana? Kan nggak mungkin motornya doang.”

“Oh iya, tuh di atas meja,” jawabku dengan malas-malasan. “Mau kemana sih?” tanyaku. Tapi Reva tak menjawab, ia berlalu begitu cepat.

Hari ini kulalui nyaris tanpa aktivitas berarti, selain bersantai-santai dengan internet. Andai saja Rhino tidak datang menjemputku, tentu aku tidak akan kemana-mana.

“Gimana kabarnya? kutelepon kok nggak pernah diangkat!” tanya Rhino, setelah kami duduk santai di pantai.

“Gimana bisa diangkat, handphoneku hilang!” sahutku ketus.

Tak banyak yang kubicarakan dengan Rhino. Kami hanya berdiam menikmati sang mentari ditelan gelombang laut secara perlahan. Tiba-tiba alunan lagu dari handphone menggema mengagetkanku.

“Iya, ada apa Bi?”

“I‒ini neng, Reva…” terdengar suara Bi Inah bergetar.

“Reva! Reva kenapa Bi?” tanyaku penasaran.

“Reva kecelakaan! Cepat pulang neng.”

Telepon pun ditutup. Aku tesentak, menitikkan air mata. Aku ingin segera pulang memastikan keadaan Reva. Aku sebagai kakak punya tanggungjawab besar menjaganya. Ibu dan Ayah telah menitipkan Reva padaku sebelum pergi ke luar negeri.


❂❂❂

“Reva dimana?” tanyaku tersedu pada Bi Inah yang berdiri di depan pintu.

Kulihat semua teman-temanku telah berkumpul, wajah mereka terlihat murung seperti mengucapkan turut berdukacita. Bi Inah yang kutanya tak menjawab sepatah kata pun, ia hanya menunjuk pada sosok tubuh ditengah ruangan yang diselimuti kain putih menyeluruh tubuh.

“Revaaa,” suaraku bergetar sambil menghampiri sosok yang ditunjuk, memeluk dan menangisinya. Air mataku semakin mengguyur bagai hujan lebat.

Teringat kembali suara nenek itu, “13 akan mengakhirinya”. Baru kusadari, hari ini tanggal 13 Januari. Andai saja Reva tak meminjam motorku, tentu semua ini takkan terjadi.

Tiba-tiba kusadari ada sesuatu yang berbeda. “Selamat Ulang Tahun,” teriak Reva seraya bangkit dan melepaskan pelukanku. Semua teman-temanku tertawa menikmati kesedihanku yang telah mereka rancang. “Selamat Ulang Tahun,” ucap mereka bersama-sama.

Kutai Kartanegara, 13 Januari '13

Charles Timothy

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.