Harapan di 12.12.12

12 Desember 2012. Angka serba 12 menjadi pusat fenomena di tahun ini. Setiap insan merencanakan momen terindah di serba 12 itu, begitupun denganku. Bagiku momen terindah adalah pernikahan. Aku dan Novi kekasihku berencana menikah di tanggal itu, tetapi entah mengapa ada yang aneh dengan hubungan kami. Pernikahan ini semakin dekat tetapi komunikasi antara kami semakin sempit dan kami tak ada persiapan apapun.

Sikap Novi kian hari kian aneh. Novi menaruh rasa curiga yang berlebihan, ia sering marah-marah tak jelas, dan sulit dihubungi. Aku benar-benar bingung dibuatnya.

Seminggu sebelum hari pernikahan, aku ke rumah Novi, ia sedang menyiram bunga-bunga di taman rumahnya. “Kenapa kamu kesini?” Tanya sinis Novi padaku.

“Kok kamu begitu sih? Seharusnya kamu senang aku kesini.”

“Senang? Wanita manapun tak akan pernah senang dengan keadaan seperti ini!” Novi membentak-bentakku, dia benar-benar tak menghargaiku.

“Kamu kenapa sih sayang? Aku itu kesini untuk berbicara soal pernikahan kita tapi kamu malah marah-marah begitu.”

“Pernikahan? Apa katamu pernikahan? Tidak akan ada pernikahan. Aku dan kau tidak akan pernah menikah!” Mendengar ucapan Novi membuat hatiku tercabik-cabik. Mengapa Novi setega itu berbicara? Mudah sekali mengucapkan kata-kata itu. “Apa yang kamu katakan? Pernikahan kita tinggal seminggu lagi, kau tak usah main-main. Kau seharusnya bersyukur karena segalanya yang kita butuhkan sudah ku urus, kau tinggal duduk di pelaminan tanpa memikirkan hal yang berat, sekarang kamu dengan seenaknya mau membatalkan, dimana rasa terimakasihmu?”

“Plak!!!” Novi melayangkan tamparan keras ke mukaku. “Armand! Dasar kamu laki-laki bajingan, kau pikir aku wanita bodoh. Dengan kau mengurus dan membiayai semuanya lantas aku akan mengikhlaskan perbuatanmu? Tidak, tidak untuk selamanya, sudah kau pergi saja.”

“Apa maksudmu, perbuatan apa?”

“Dasar Laki-laki tak tau diri, atau memang kau pura-pura tak tahu. Kamu selingkuh dengan Mira temanku sendiri! Puas kamu membuat aku hancur?”

“Selingkuh? Siapa yang selingkuh, aku tidak selingkuh. Aku dan Mira tidak ada apa-apa, aku hanya membantu Mira saja, percayalah padaku!”

“Halah! Semua sudah jelas, tak ada yang perlu dijelaskan aku benar-benar kecewa dan sakit hati padamu.”

“Aku berani sumpah mati dan bersujud dihadapanmu, apa yang kamu lihat dan kamu dengar itu tidak benar, aku hanya niat membantu Mira, hanya itu!” Aku berlutut di hadapan Novi, tapi Novi justru mengusirku. “Kamu pergi saja, pergi!” Novi mendorongku hingga keluar, Novi juga langsung menutup gerbang rumahnya. “Sayang! Sayang percayalah padaku, percayalah...!!!” berkali-kali aku berteriak, tetapi Novi pura-pura tak mendengarkanku. Mengapa semua jadi begini Tuhan?

Ini memang salahku, aku terlalu peduli dengan Mira. Satu-satunya jalan keluar adalah Mira, agar semua jelas. “Tolong Ra katakan pada Novi yang sebenarnya , tolong bantuin aku!”

“Armand! Novi itu sudah berlebihan, apa yang perlu dijelasin? Seharusnya dia percaya padamu, kamu kan calon suaminya,” ujar Mira.

“Tidak! Novi tidak berlebihan, aku mengerti mengapa Novi seperti itu, Tolong bantuin aku Mira.”

“Aku mengenal Novi sudah lama, dia tipikal orang yang sangat keras Ar! Aku tidak yakin dia akan percaya.”

“Aku juga mengenal Novi, pasti dia percaya. Aku mohon Mira.”

“Sorry, sorry banget! Aku tidak bisa, kamu tahukan aku sibuk banget jadi maafin aku, aku yakin Novi akan menikah denganmu.” Mira langsung pergi tanpa melihat betapa kecewanya diriku.

“Ra, Mira... Mira...!!!” Teriakanku tak dipedulikanya. Aku tak bisa hidup tanpa Novi, aku enggak bisa. Entah apa lagi yang harus aku lakukan?

❂❂❂

12 Desember 2012 yang seharusnya menjadi hari pernikahan, tapi semuanya telah hancur. Dihari ini juga aku meminta bertemu dengan Novi, kami janjian bertemu di danau. Inilah mungkin jalan terakhir untukku, setelah ini aku akan mendekam di Rumah Sakit Jiwa jika Novi benar-benar tak mau menikah denganku.

“Sayang! Akhirnya kamu datang, aku senang kamu datang!” Aku meraih tangan Novi

“Jangan sentuh aku!” Novi seperti jijik kusentuh, ia segera membanting tanganku.

“Maaf, tapi aku rindu sama kamu sayang.”

“Sudah, to the point aja. Apa yang ingin kamu katakan?”

“Aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, sebenernya!” Sebelum aku melanjutkan bicara, Novi memotongnya . “Aku sudah bilang, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, sudah cukup semuanya aku sudah terlalu sakit. Tolong jangan terus-terusan membuat aku sakit!”

“Tolong dengarkan aku dulu, dan perlu kamu tahu aku tak bisa tanpamu!”

“Bullshit! Jangan lagi muncul dihadapanku!” Novi langsung lari menjauh dariku.

“Novi, beri aku kesempatan...!!!” Teriakku tak dihiraukanya. “Aku akan menunjukkan sebagai bukti cintaku padamu!” Aku berusaha mengerjarnya dan meraih tanganya, namun tanggapanya begitu pahit. “Ah...lepaskan! Tak usah kau tunjukkan apa-apa, tidak akan mengubah pendirianku.”

“Lihat ini!” Aku mengeluarkan pisau dari saku dan menggoreskan di jari telunjukku, darah mengucur deras membasahi jari-jari. “Tidak!” Teriak Novi. Novi meraih pisau dari tanganku, tak kusangka dia melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. “Auch!” Teriaknya menahan sakit.

“Novi! Apa yang kamu lakukan?”

“Maafkan aku, maafkan aku!” Novi berlinang air mata. Tanpa disengaja Kedua bibir kami berkata. “12.12.12! Ini bukti cinta kita!” Telunjuk tangan kami yang sudah berlumuran darah saling menyatu, seperti cinta kita yang kembali menyatu di tanggal 12 Desember 2012.

Maria Umma

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.