Kucuran Darah tak Berarti

Ketika aku sedang bersantai, ku melihat ibu dikebun sedang berusaha merobohkan pepohonan yang masih kecil. Hatiku terenyuh, dalam hatiku berkata. “Mengapa tadi saat ibu mengajakku membersihkan kebun aku tidak mau, tega sekali aku”. Setelah itu aku bergegas ke kebun dan menghampiri ibu. Ibu sedang berusaha merobohkan pohon salak yang tingginya kurang lebih dua meter. Aku kasian melihatnya, clurit yang dibawa ibu untuk merobohkan salak langsung aku minta dan salak itu berusaha aku robohkan. Ternyata tak semudah yang aku bayangkan, walaupun pohonya kecil tapi sulit sekali merobohkannya. Aku membutuhkan waktu beberapa menit. Akhirnya, pohon salakpun berhasil aku robohkan. Lalu aku angkat ketepi kebun. Aaarrrggg... aduh!!! Jari telunjukku tergores cukup dalam oleh bekas patahan pohon salak yang sangat runcing, sontak darah mengucur deras.

Seolah tak ada kecelakan, aku melanjutkan menenbang pohon apa yang ingin ibu tebang. Pohon salak lagi yang ingin ditebang ibu. Aku melihat jariku terus mengeluarkan darah, darahnya membasahi ibu jari dan jari tengah. Sambil aku berusaha menebang pohon salak, Aku berusaha menutupi darah yang terus menetes. Pohon salak rubuh, masih ada pohon lain. Darah itu tak mau berhenti, clurit penuh dengan lumuran darah, tapi ajaibnya tidak ada rasa sakit sama sekali ataupun pedih. Sampai pohon terakhir yang harus aku tebang, yaitu pohon kopi yang lumayan tinggi tapi tak terlalu besar.

Ditengah-tengah menebang tanganku mulai melemah. Aku beristirahat sejenak dan mengganti clurit dengan pisau besar yang lebih tajam. Setelah beristirahat aku melanjutkan lagi menebang. Ibu memandangiku terus. Aku berusahan menutupi darah yang sudah menyebar kejari-jariku. Tak kusangka, ibu merebut pisau besarnya.

“Loh, nduk kok dipohon ada darah?” Tanya ibu ketika melihat pohonnya ada tetesan darah dari jariku.

Aku panik, dengan penyesalan aku harus jujur sama ibu. “Nggak bu, itu tadi terkena pohon salak yang runcing, bukan terkena pisau.” Ibu langsung melihat tanganku dan berkata “Sampai bercucuran begitu, diobati sana sama getah pisang.” Menurut kepercayaan orang jawa, getah pisang bisa memberhentikan darah, tapi aku mengelak “Nggak apa-apa bu, lagian nggak sakit kok, nggak terasa apa-apa.” Ibu langsung mencarikan pelepah daun pisang dan menetesakan getahnya ke jariku, pedih sekali rasanya. Dibalik kecelakan ini aku senang, aku terimakasih kepada tuhan, seandainya aku tadi tidak datang kemungkinan ibuku yang berdarah. Memang jariku terluka sampai mengeluarkan darah banyak sekali tapi aku senang sekali darah keluar karena ibu, tapi aku sedih mengapa ibu mengetahuinya. Setelah ibu tahu, ibu melakukan sendiri merobohkan pohon-pohon kecil, aku berusaha membantunya dalam diam membisu.

Itulah seorang ibu yang tak tega anaknya terluka sekecil apapun. Darah ini tak berati dibanding dengan kasih sayang seorang ibu. Sebanyak apapun darah ini keluar masih sangat kecil dibanding dengan pengorbanan seorang ibu. Sekalipun jari-jari ini patah tak sebanding dengan jasa-jasa seorang ibu.

Maria Umma

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.