Mafia Jalanan

PAK Dunno memantik pemantik apinya, lalu kemudian menyulutnya pada rokok yang bertengger di bibirnya. Dihisapnya dalam-dalam rokok itu. Hanya sepersekian detik asap tebal pun mengepul keluar dari hidung dan mulutnya, hingga memenuhi ruangan.

Aku adalah salah satu dari tiga orang anak jalanan yang diselamatkan oleh Pak Dunno. Ia memberikan kami uang setiap bulannya, tapi sebagai balas jasanya, kami harus bekerja untuknya.

"Apa yang kau dapatkan hari ini Rey?" Pertanyaan Pak Dunno membelah kesunyian.

"I-Ini" jawab Rey terbata dari sudut  ruangan, sambil memperlihatkan sebuah dompet hitam bergambar tengkorak.

"Bagus!" seru Pak Dunno, lalu sesaat kemudian mengalihkan pandangan kearahku “Bagaimana denganmu Dewo?”

“Hanya ini” aku mengambil sebungkus rokok yang belum dibuka dari dalam saku celanaku, lalu menyerahkannya tepat di depan Pak Dunno.

“Dimana kau mendapatkannya?” terdengar nada suara Pak Dunno meninggi. Mungkin ia kecewa dengan hasilku hari ini.

“Aku mencurinya dari toko.”

“Bodoh sekali kau, hanya mendapatkan sebungkus rokok.” Rokok itu pun dilempar tepat mengenai wajahku.

“Joe, kenapa kau tertawa. Apa hasilmu?” Pak Dunno menatap tajam pada Joe.

Joe selalu menertawakan aku dan Rey, karena kami selalu mendapatkan hasil yang lebih kecil daripada dirinya. Kami  berdua memang tak berani seperti dia. Ia selalu mendapatkan hasil yang bisa memuaskan Pak Dunno.

“Handphone, dompet wanita, dan sebuah kunci sepeda motor.” Joe tersenyum sambil meletakkan semua yang ia dapatkan di lantai.

“Bagus, kau memang pintar.” Pak Dunno tersenyum puas. “Tapi kenapa di barang-barangmu ada bercak-bercak darah,” tanyanya heran, sambil menekan-nekan tombol di ponselnya lalu menempelkannya ke telinga.

“Aku membunuh seorang gadis.” Joe terdiam sesaat, membuat kami semua terdiam dalam ketegangan. “La-lalu, aku mengambil semua barang-barangnya,” lanjutnya terbata-bata.

Sebuah alunan nada dering panggilan di handphone memecahkan ketegangan. Semua mata tertuju pada Joe. Menatap heran pada handphone curian yang berdering di lantai. Joe terdiam membaca tulisan yang tertera pada handphone di dekatnya. Tertulis sebuah nama. “Papa Dunno.”

Charles Timothy

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.