Cinta Kita Terlarang


Anak laki-laki Ama alias bos-ku, dia sangat baik, ramah, dan kekeluargaan. Namun, namanya hidup di dunia, ada orang yang suka pada kita, adapun juga sebaliknya, yaitu istri bos-ku. Dari awal aku datang, entah karena apa, dia sudah memperlihatkan ketidaksukaannya padaku. Bos-ku , sebut saja Alan, karena sehari-hari itulah panggilannya dia, umurnya belum begitu tua, tapi juga tak muda lagi. Awalnya hubungan aku dan dia hanya sebatas bos dan sebagainya saja, kami jarang ngobrol, hanya bertegur sapa saja, karena bagaimanapun juga aku harus menghormatinya, karena dialah bos-ku, orang yang menggaji aku. Entah bagaimana awalnya, dari cuma bertegur sapa, sampai dia sering ajak aku ngobrol, cerita dan bercanda. Karena dalam rumah itu, selain Ama, cuma dia yang paling sering mengajak aku ngobrol, hingga akhirnya pun aku jadi lebih terbiasa dengannya ketimbang yang lain, dan otomatis juga aku dan dia jadi semakin dekat, dan gak ngerti kenapa, dia selalu meluangkan waktunya hanya untuk bercanda denganku.

Keadaan, ya, mungkin keadaan yang beri kami kesempatan, hampir tiap hari, tiap waktu, kami selalu bersama, saat dia mau pergi kerja, hingga saat dia pulang kerjapun, hanya aku yang dia temuui, dan bersama dia. Ya... karena istrinya, selain berkerja, dia terlalu sibuk dengan teman-temannya diluar, hampir tiap hari dia tidak ada di rumah, aku tahu juga dari Alan sendiri yang mengatakannya padaku. Makin lama, karena terbiasa dengannya, bercanda dengannya, akhirnya jadilah perhatiannya, ya, perhatiannya padaku begitu besar. Namun aku piker-pikir, kenapa perhatiannya makin lama makin tak wajar padaku. Hingga pada suatu hari, dia mengatakan kalau dia menyayangiku, dan sayang itu adalah sayang seorang laki-laki dewasa kepada seorang wanita. Antara bingung dan gelisah, akupun resah dibuatnya, entahlah apa yang ada dalam otakku waktu itu, aku akui aku juga sayang dia, karena aku terbiasa dengan perhatiannya, aku nyaman disisinya, bersamanya, walau aku tahu tak seharusnya begitu.

Aku jalani hari-hariku bersamanya, dengan segala perhatiannya, dari hari ke hari, kami saling menyayangi, saling perhatian, tapi mauku tanpa embel-embel “Cinta” , karena aku masih sadar, otakku masih waras, dia itu siapa, aku itu siapa. Dari segala segi, kami sangatlah berbeda, dan aku pikir-pikir, hubungan ini tanpa arah dan tujuan, dan kala disebutkan namanya, apalagi kalau bukan “Cinta Terlarang”, saling menyayangi dibelakang wanita yang lebih berhak atasnya, yaitu istrinya. Aku sadar aku telah menyakiti hati sesama kaumku. Aku tak ingin terus menerus dihantui rasa bersalah, aku ingin menghentikan perasaanku yang jelas-jelas tak seharusnya ini. Perasaan sayangku padanya, yang sebenarnya tidak pada tempatnya. Walaupun aku akui sangat sulit sekali melakukannya, tapi dengan berat hati tetap harus aku lakukan.

Hidupku tidak untuk selamanya disini bersamanya, aku disini hanya sebatas kontrak kerja, disini bukan tempatku, dan sebentar lagi 2 tahun, dan aku putuskan untuk mengakhiri saja. Aku ingin melupakan dia, semua tentang dia, aku ingin akhiri hubungan terlarang ini. Hanya dengan cara inilah aku bisa melupakannya, pergi menjauh darinya untuk selama-lamanya. Alan, aku tahu kamu sangat menyayangi aku, kamu tak rela melepasku, tapi kamu punya kehidupan nyata yang harus kamu jalani, bukannya kehidupan semu bersamaku, jalani kehidupanmu bersama keluargamu. Lupakanlah aku, kita tak mungkin bersatu, lepaskanlah aku, relakanlah aku pergi, biarlah cerita kita hanya jadi kenangan dalam hidup kita.

Kasih sayang, perhatian yang pernah kau berikan padaku akan selalu aku ingat dan aku kenang sepanjang hidupku. Tak mengapa meski hanya kenanganmu yang bisa aku  bawa. Dan benar juga kata pepatah “mencintai tak harus memiliki”, aku sangat menyayangimu, meskipun tak mungkin memilikimu. Kau bukan milikku, kau bukan untukku, kau tercipta bukan untuk bersamaku, kau milik mereka, keluargamu. Aku pergi, dan tak akan pernah kembali lagi padamu, baik-baiklah kamu bersama keluargamu.

Kasih, semoga kau bahagia. Selamat tinggal cintaku, cinta terlarangku, lupakan aku, wanita yang pernah mengisi ruang hatimu, walaupun cuma sesaat, mungkin bukan disini tempatku meraih cita dan cinta-ku. Aku yakin, suatu hari nanti aku pasti bisa meraih citaku dan menemukan cinta sejatiku, dan bukannya cinta yang terlarang seperti cintaku pada Alan. Akan aku jadikan pengalaman dan pelajaran hidup, bahwa untuk meraih cinta sejati tak perlu takut melepas cinta yang sebenarnya bukanlah cinta sejati kita. Dan yang pasti, cinta sejati itu tengah menunggu kita diluar sana, diambang pintu cinta itu.

Maria Umma

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.