168 Jam dalam Sandera

Siapa pun penonton televisi dan pembaca koran pasti ingat peristiwa nahas tersebut. Meutya Hafid, seorang reporter Metro TV dan Budiyanto, juru kamera yang mendampinginya, disandera oleh Mujahidin Irak. Mereka diculik tiba-tiba saat sedang berhenti di sebuah POM Bensin. Seluruh bangsa pun khawatir. berdoa demi keselamatan mereka, dan mengusahakan pembebasan secepatnya.

168 jam lamanya Meutya dan Budi berada dalam sandera. Di dalam sebuah gua kecil di tengah gurun Ramadi. Tidur beralaskan batuan dan dibuai oleh suara bom dan tembakan. Di sana mereka belajar tentang kepasrahan total kepada Yang Kuasa, karena telah begitu dekatnya dengan kata "mati". Di sana mereka diingatkan, bahwa jika Tuhan menghendaki, segalanya bisa terjadi. Dan, di sana pula mereka berdua disadarkan, betapa nyawa sangat berharga, dibandingkan berita pating eksklusif sekalipun.

"Mengharukan dan menyentuh ... beberapa kali saya terpaksa berhenti membaca karena tak kuasa menahan tangis. Tidak hanya bercerita tentang ketabahan dan ketangguhan penulis dalam menghadapi cobaan berat, memoar ini juga menyadarkan pentingnya arti kepasrahan dan penyerahan diri kepada kuasa Tuhan."
—Dian Sastrowardoyo

"Dengan buku ini, terbukti kebenaran ungkapan tiada yang perlu ditakuti kecuali ketakutan itu sendiri."
—KH. Abdurrahman Wahid

Charles Timothy

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.